Sabtu, 24 April 2010

Maqam Raja'

MAQAM ROJA`

Adapun roja` secara bahasa artinya harapan/cita-cita; sedangkan menurut istilah ialah bergantungnya hati dalam meraih sesuatu di kemudian hari. Roja` merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali kepada Allah 'Azza wa Jalla. Memalingkannya kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa berupa syirik besar atau pun syirik kecil tergantung apa yang ada dalam hati orang yang tengah mengharap.

Raja’ (Harap/Harapan) adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana khauf (takut) yang berhubungan dengan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, maka demikian juga Raja’ akan membawa implikasi terhadap hal yang di cita-citakan di masa yang akan datang. Dengan Raja’ maka hidup akan menjadi hidup dan merdeka.

Roja (harapan/mengharap) tidaklah menjadikan pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Baqarah: 218]. Allah juga berfirman, "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya." [Al-Kahfi: 110].

Di dalam Al-qur’an banyak firman Allah yang menjanjikan raja’ (harapan) bila orang berbuat baik akan diberi syurga dan lain-lain. Seperti firman Allah pada surat Assajadah ayat 19: أَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ , Surat At-Thin ayat 6: ِإ لَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ, demikian pula tentang perasaan khauf (takut) seperti firman Allah pada surat Al-Isra’ ayat 10: َوأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا , An-Nisa’ ayat 138 ِبشرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . Rasulullah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Anas: “Keduanya (takut dosa dan rahmat Allah) itu tidaklah berkumpul pada hati hamba pada tempat ini, melainkan ia diberikan oleh Allah apa yang diharapkannya dan ia diamankan oleh Allah dari apa yang ditakutinya”.

Berkata Ibnul Qoyyim dalam "Madarijus-Salikin": "Orang-orang yang mengerti telah bersepakat bahwa roja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal". Dengan demikian, roja` kepada Allah akan tercapai dengan beberapa hal, diantaranya: pertama, senantiasa menyaksikan karunia-Nya, kenikmatan-Nya, dan kebaikan-kebaikan-Nya terhadap hamba; kedua, jujur dalam mengharap apa yang ada di sisi Allah dari pahala dan kenikmatan; ketiga, membentengi diri dengan amal shaleh dan bergegas dalam kebaikan.

Ibnul Qayyim -rahimahullah- membagi roja` menjadi tiga bagian, dua di antaranya roja`,yang benar dan terpuji pelakunya, sedang yang lainnya tercela. Roja` yang menjadikan pelakunya terpuji, pertama: seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah, di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahalaNya; kedua: seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela: seseorang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan; roja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.

Menurut Syah Al-Kirmani, tanda raja’ adalah kebaikan ta’at. Menurut Abdullah bin Khubiq, raja’ memiliki tiga bentuk. Pertama orang yang mengerjakan peprbuatan baik dan berharap dapat diterima. Kedua, orang yang mengerjakan perbuatan jahat lantas ia bertobat kemudian berharap mengharapkan ampunan. Ketiga, orang yang mengerjakan perbuatan dusta dan tidak mengulangi perbuatan dosa, lalu mengharapkan ampunan. Barang siapa yang mengetahui dirinya berbuat jahat sebaiknya ia bersikap khauf daripada bersikap raja’.

Menurut satu pendapat, raja’ merupakan sikap percaya terhadap sifat kedermawanan Allah SWT. Menurut yang lain, raja’ adalah melihat Tuhan dengan pandangan yang baik. Ada yang berpendapat, raja’ adalah dekatnya hati terhadap kelemah lembutan Tuhan. Menurut yang lain, Raja’ adalah senangnya hati terhadap tempat kembali yang baik (akhirat). Sedangkan pandangan yang lain, raja adalah memandang keleluasaan rahmat Tuhan.

Abu Ali Ar-Rudzabaari menganalogkan khauf dan raja’ sebagai dua sayap burung. Apabila keduanya seimbang, maka burung itu akan seimbang dan terbang dengan sempurna. Apabila salah satu sayapnya ada yang kurang, maka ia tidak akan seimbang. Apabila burung itu terbang maka ia akan mati.

Ahmad bin ‘Ashim Al-Anthaki pernah ditanya, “Apa tanda raja’ bagi seorang hamba ?”. Ia menjawab, “Apabila mendapatkan kebaikan, maka ia akan bersyukur dengan mengharapkan kenikmatan yang sempurna dari Allah SWT di dunia dan pengampunan di akhirat”.

Menurut Abu AbdilLah bin Khafif, yang dimaksud raja adalah merasa bahagia karena mendapatkan keutamaan dari Allah SWT dan leganya hati karena dapat melihat keagungan Dzat yang diharapkan dan dicintai.

Syaikh Al-Qusyairy berkata, “Saya mendengar Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, ‘barang siapa yang mementingkan diri sendiri dengan mengesampingkan raja’ maka dia akan rusak’. Barang siapa yang mementingkan diri sendiri dan mengesampingkan khauf maka dia akan terputus. Diantara keduanya terkadang yang pertama terjadi dan terkadang yang kedua’”.

Bakar bin Sulaim Ash-Shawaf bertemu kepada Malik bin Anas diwaktu sore hari ketika akan meninggal dunia. Bakar bertanya kepadanya, “Wahai Abu AbdiLlah, bagaimana engkau mendapati keadaaan dirimu ?”. Malik menjawab, “Saya tidak tahu apa yang harus aku katakan, hanya saja engkau harus memohon pengampunan kepada Allah SWT sebelum di hisab”. Setelah itu Bakar senantiasa memohon sehingga dapat memejamkan kedua matanya”.

Yahya bin Muadz mengatakan, “Saya hampir mengharapkan dosa kepadaMu yang dapat mengalahkan harapanku terhadap perbuatan baik. Dalam mengerjakan perbuatan baik saya selalu ikhlas, bagaimana saya dapat memeliharanya sedangkan saya dalam keadaan bahaya. Dalam mengerjakan dosa, saya selalu mengharapkan pengampunan-Mu. Bagaimana Engkau tidak mengampuniku sedangkan Engkau mempunyai sifat dermawan”.

Orang-orang membicarakan Dzun_nun Al-Mishri ketika ia sakit yang mengantarkan pada kematian. Dzun-Nun mengatakan, “Jangan menyibukkan diri untuk diriku karena aku sudah memperoleh karunia Allah SWT yang selalu bersamaku”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Ya.. Tuhan beberapa pemberian akan kuhiaskan di dalam hatiku untuk mengharapkan-Mu. Beberapa ucapan akan ku tanamkan di dalam mulutku untuk memuji-Mu, dan setiap saat akan ku cintakan di dalam diriku agar dapat berjumpa dengan-Mu”. Sebagian kitab menjelaskan bahwa RasuluLlah SAW berkumpul-kumpul dengan para sahabat di depan pintu Syaibah seraya beliau bersabda, “Kenapa kalian tertawa, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (HR. Bukhari dan Turmudzi).

Setelah itu Qahqari (salah seorang sahabat yang berkumpul ) pulang dan bertemu dengan RasuluLlah SAW beliau bersabda, “Malaikat Jibril datang kepadaku dan menyampaikan firman Allah SWT, ‘Peringatilah hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun’”. (QS. Al-Hijr 49).

‘Aisyah RA mengatakan bahwa RasuluLLah SAW bersabda, “Allah SWT menertawakan hamba yang berputus asa karena rahmatNya selalu dekat dengannya”’.

“Demi ayah dan Ibu, apa betul Allah SWT tertawa, ya RasuluLLah SAW ?”. tanya ‘Aisyah.

“Demi Dzat yang diriku ada dalam kekuasaannya, sesungguhnya Allah SWT tertawa”.

‘Aisyah kemudian berkata bahwa seseorang tidak dianggap baik apabila ia tertawa. Tertawa merupakan sifat-sifat pekerjaan yakni dengan menampakkan keutamaan sebagaimana ungkapan, “Bumi tertawa karena adanya tumbuh-tumbuhan,” . Allah SWT menertawakan hamba-hambaNya yang berputus asa karena merupakan keutamaan-Nya yang mereka tidak mampu melihatnya.

Ada suatu cerita, seorang Majusi bertamu dan minta jamuan kepada Nabi Ibrahim AS.

“Ya.. asalkan engkau masuk Islam maka engkau akan kujamu”. Jawab Nabi Ibrahim AS.

“Jika saya masuk Islam ? Maka mana kedermawananmu yang bisa engkau berikan kepadaku ?”. kata si Majusi. Setelah itu ia pergi. Allah SWT kemudian menurunkan wahyu sebagai teguran kepada Nabi Ibrahim AS “Wahai Ibrahim, mengapa engkau tidak memberikan makanan kecuali dengan menuntut kepindahan agamanya ? Aku (Allah) selama 70 tahun telah memberikan ia makanan meski ia dalam kekafiran. Engkau semalampun tidak bisa memberinya jamuan, maka dimana kekonsistenanmu (sebagai Nabi ?)”.

Nabi Ibrahim AS menyesal kemudian segera menyusul orang majusi dan memberinya jamuan. Orang majusi kemudian bertanya, “apa yang menyebabkan kamu berbuat yang demikian ?” Maka Nabi Ibrahim menceritakan kisahnya , dan orang majusi kemudian bertanya, “Apa karena itu engkau berbuat seperti ini ?”

Nabi Ibrahim AS menjawab, “Tunjukkanlah Islammu !”. maka orang majusi itupun kemudian masuk Islam.

Abu Bakar bin Asykib mengatakan, “Saya bermimpi bertemu Abu Sahal Ash-Shu’luki dalam keadaan yang sangat baik. Saya bertanya, “Wahai Ustadz, dengan cara apa engkau memperoleh semua ini ?” Ia menjawab, “Dengan cara baik sangka kepada Tuhan”. Malik bin Dinar pernah bermimpi, ia ditanya, “Apa yang telah Allah berikan kepadamu ?” Ia menjawab, “Saya ,emghadap Tuhan dengan membawa dosa yang banyak, tetapi Allah SWT memberikan ampunan karena saya selalu berbaik sangka kepada-Nya”.



Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, yang artinya “Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi : Aku berada sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepadaKu dan Aku akan selalu bersamanya selagi mereka mengingatku. Jika dia ingat kepadaku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu dalam kerumunan orang ramai, maka Aku akan mengingatnya dalam kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepadaKu satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadany satu hasta. Jika ia mendekat kepadaKu satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Jika dia mendekat kepadaKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya seraya berlari”.

Al Kisah Ibnu Mubarak ingin membunuh orang kafir ajam / non arab. Ketika waktu shalat tiba, dia tidak mempedulikan hingga waktupun berganti tidak mempedulikannya. Sewaktu orang kafir itu menyembah matahari, Ibnu Mubarak hendak memenggal lehernya dangan pedangnya. Tiba-tiba Ibnu Mubarak mendengar suara dari atas awan yang menegurnya ,”Hendaklah engkau memenuhi janji karena janji itu akan dimintai pertanggung jawaban”. (QS. Al-Isra 34).

Seketika itu dia menahan tangannya, dan setelah majusi selesai mengerjakan ibadahnya, dia mengucap salam dan mengatakan kepada Ibnu Mubarak, “Kenapa tidak engkau lanjutkan apa yang engkau inginkan ?”.

Ibnu Mubarak menjelaskan apa yang telah ia dengar. Orang majusi itu menimpalinya, “Ya..Tuhan benar,. Tuhan mencela kekasihNya yang terlibat dalam permusuhan “. Setelah kejadian itu orang majusi itupun masuk Islam.

Menurut satu pendapat, Allah SWT akan menjatuhkan orang-orang dalam lumpur dosa sehingga Dzat Allah SWT akan disebut sebagai Dzat Yang Maha Pengampun. Menurut satu pendapat lain, seandainya Allah SWT berfirman, “Aku tidak akan mengampuni dosa-dosa maka orang Islam tidak akan pernah mengerjakan dosa. Dan seandainya Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang menyekutukan-Ku maka tentu seorang muslim tidak akan pernah menyekutukanNya. Akan tetapi Allah SWT berfirman, “Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa selain syirik kepada orang yang dikehendaki”.(QS. An-Nisa 48). Untuk itu tentu mereka akan mengharapkan ampunanNya.



Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham, yang menceritakan, “saya pernah menunggu sesuatu dalam tenggang waktu yang tidak ada angin topan. Namun ketika malam menjadi sangat gelap, hujan turun dengan sangat lebatnya. Setelah angin topan itu reda, saya memasuki tempat yang dikelilingi orang banyak dan saya berdo’a, Ya allah lindungilah diriku’. Tiba-tiba saya mendengar suara gaib yang menegurku, Wahai Abu Adham, engkau mwminta perlindungan kepadaKu, demikian pula semua orang memohon perlindungan kepadaKu. Jika Aku memberikan perlindungan kepada semuanya, maka kepada siapa Aku memberikan rahmat ?’.

Dalam suatu ungkapan diceritakan bahwa Abu Al-Abas As-Suraij pernah bermimpi, dalam mimpi itu ia akan meninggal dunia sementara kiamat seakan akan telah tiba. Kemudian Allah SWT bertanya, “dimana Ulama?”.

Ketika para ulama menghadap, Allah SWT bertanya, “Apa yang te;ah engkau kerjakan ?”

“Ya Tuhan, kami tealh lengah dan telah berbuat kejahatan”.

Allah SWT kemudian mengembalikan pernyataan itu kepada mereka seakan – akan Ia tidak rela dan menghendaki jawaban yang lain. Setelah itu saya memberanikan diri menjawab, “Di dalam buku catatan amalku, aku tidak menemukan dosa syirik, padahal engkau tealh berjanji akan mengampuni dosa-dosa selain syirik”.

Allah SWT berfirman, “ Pergilah Aku telah mengampuni dosa-dosamu”.

Tiga hari setelah kejadian itu, Abu Al-Abbas meninggal dunia.

Ada seorang laki-laki peminum khamr mengumpulkan para peminum. Dianmemberikan uang 4 dirham kepada hamba sahayanya agar membeli buah-buahan untuk jamuan id tempat pertemuan. Hamba itu melewati depan pintu rumah Manshur bin Amar yang sedang meminta-minta untuk kepentingan orang fakir. Manshur mengatakan“ Barang siapa yang memberiku 4 dirham maka akan aku do’akan empat kali. Makahamba itupun menyerahkan uangnya yang 4 dirham yang sedang ia pegang.


“Apa yang engkau inginkan agar aku mendo’akanmu ?’”. tanya Manshur.

“Saya ingin merdeka”

“Apalagi ?”

“Agar Allah SWT mengembalikan dirham-dirhamku”

“ Ada yang lain ?”

“Agar Allah SWT menerima tobat tuanku “.

Kemudian ?”

Agar Allah SWT mengampuniku, tuanku, dirimu, dan orang banyak”

Manshur kemudian mendoakan segala permintaan hamba itu. Setelah hamba itu kembali kepada tuannya, maka tuannya bertanya, “Kenapa engkau terlambat ?”.

Hamba itu menceritakan peristiwa yang dialaminya.

“Apa saja yand didoakan olehnya “? Tanyanya.

“Pertama aku minta agar diriku dimerdekakan”.

“Pergilah, sekarang engkau merdeka”.

“Ke dua, agar Allah SWT menggantiakn dirham yang sedang saya pegang”.

“Engaku mendapat empat ribu dirham”.

“Ketiga, Agar Allah SWT meenerima tobatmu”.

“Saya telah bertobat kepada Allah SWT”.

“Ke empat agar Allah SWT mengampunimu, diriku, orang banyak, dan orang yang memberikan peringatan”.

Si tuan lantas mengatakan “Ini yang saya tidak miliki”.

Ketiak si tuan ini tidur di waktu malam, dia bermimpi seakan akan ada yang mengatakan, “Engkau telah mengerjakan sesuatu yang telah engkau pinjamkan untuk kepentinganmu yang Aku tidak mengerjakan sesuatu untuk kepentingan-Ku. Aku tealh memngampunimu, hamba sahayamu, Manshur bin Amar dan orang-orang yang hadir”.

Dalam cerita yang lain, Ribah Al-Qaisi telah melaksanakan haji berkali-kali. Suau hari ia berhenti di bawah mizab seraya memohon, “Yaa Tuhanku, beberapa haji yang telah aku lakukan kuberikan kepada RasuluLLah SAW. , sepuluh untuk sepuluh sahabat, dua untuk ke dua orang tuaku, dan sisanya untuk orang-orang Islam.” Dia tidak menyisakan untuk dirinya sendiri sehingga ia mendengarlah sebuah suara gaib,”Dia adalah orang yang dermawan. Oleh karena itu Aku akan mengampunimu, ke dua orang tuamu, dan orang-orang yang mengetahui kebenaran”.

Diriwayatakn dari Muhammad bin Abdul Wahab Ats-Tsaqafi yang mengatakan, “Saya pernah melihat jenazah yang dipanggul oleh tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan. Maka saya mengambil alih tempat perempuan itu. Setelah itu kami berlima pergi bersama-sama menuju tempat kuburan, mengerjakan salat janazah, dan menguburkannya, saya bertanya kepada perempuan itu, “Siapa jenazah itu?”.

‘Dia adalah puteraku’.

‘Apa engkau tidak memiliki tetangga?’

‘Punya tetapi mereka mengenggapnya rendah’.

‘Apa sebenarnya yang terjadi ?’

‘Dia adalah waria’

Saya merasa kasihan kepadanya. Suatu saat perempuan itu datang ke rumahku dan kuberikan dirham, buah labu dan pakaian. Di malam harinya, ketika tidur aku bermimpi melihat waria itu seakan – akan datang kepadaku seperti bulan di malam purnama dengan berpakaian serba putih dan berterima kasih kepadaku. Saya bertanya, “’Siapa engkau ?’

Dia menjawab, ‘Saya adalah waria yang telah engkau kubur di siang itu’. Allah SWT telah memberikan rahmat kepadaku karena banyaknya orang yang merendahkanku’.

Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairy RA berkata, “Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ‘Suatu hari Abu Amr Al-Baikindi melewati jalan yang datar. Dia melihat kaum yang hendak mengusir seorang pemuda dari tempatnya karena membuat kerusakan. Ibunya menangis sehingga Abu Amr merasa kasihan dan memberikan pertolongan. Abu Amr mengatakan, ‘Serahkanlah perkara ini kepadaku. Jika ia membuet kerusakan lagi maka ia akan kuserahkan kepadamu’. Mereka menyerahkan pemuda itu kepada Abu Amr . selang beberapa hari Abu Amr melewati tanah datar tersebut dan mendengar isak tangis dari perempuan (ibu pemuda itu) di balik pintu. Abu Amr bergumam dalam hatinya, ‘Barang kali pemuda itu membuat kerusakan lagi sehingga diasingkan dari tempat ini’. Abu Amr mengetuk pintu dan menanyakan tentang pemuda itu. Perempuan tua itu keluar dan berkata, “Dia telah meninggal”. Abu Amr menanyakan peristiwanya. Perempuan itu menjawab, “Ketiak akan meninggal ia mengatakan kepadaku, Wahai Ibu jangan kau ceritakan kepada tetangga tentang kematianku. Saya telah menyakiti mereka. Oleh karena itu mereka akan menyia-nyiakan diriku dan tidak akan menghadiri jenazahku. Apabila engkau telah menguburku, maka inilah cincin yang bertuliskan “BismiLlahirrahmaanirrahiim” hendaklah engkau pendam bersamaku. Jika telah selesai hendaklah memohon pertolongan kepada Tuhanku”. Perempuan itu melanjutkan ceritanya. “Saya telah melaksanakan wasiyatnya’.

Ketika Abu Amr hendak pulang, dari tempat kuburan itu Abu Amr mendengar suara memanggil ‘Wahai Ibu pulanglah , saya telah menghadap Tuhan’”.

Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan sebuah wahyu kepada Nabi Daud AS “Katakan kepada mereka sesungguhnya Aku Allah telah menciptakan mereka bukan untuk mendapatkan keuntungan, akan tetapi Aku menciptakan mereka agar mereka mengambil keuntungan dariKu”.


Ibrahim Al-Athrusi mengatakan, “di Baghdad saya duduk bersama Syaikh Ma’ruf Al-Kharqi RA di tepi sungai tigris. Di depanku, beberapa pemuda berlayar menggunakan sampan kecil. Mereka berlabuh menuju tepi sungai sambil minum, makan dan bercanda. Saya bertanya kepada Syaikh Ma’ruf Al-Kharqi, apakah negkau tidak melihat bagaimana mereka bermaksiyat kepada Allah SWT dengan cara membuka saluran air?’. Berdoalah kepada Allah SWT untuk mereka. Syaikh Ma’ruf lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Tuhan sebagaimana engkau telah membahagiakan mereka di dunia, maka bahagiakanlah mereka di akhirat”. Saya menegurnya, “Saya meminta kepadamu untuk mendoakan mereka”. Syaikh Ma’ruf balik berkata, “Jika Allah SWT membahagiakan mereka di akhirat berarti Allah SWT menerima taubatnya”.

Diceritakan oleh Abu Abdullah Husain bin Sa’id yang mengatakan, “Yahya bin Akhtsam Al-Qadhi adalah orang yang setia kawan. Dia mencintaiku, begitupun juga aku mencintainya. Saya ingin bermimpi bermimpi bertemu dengannya dan ingin kutanyakan sesuatu, ‘Apa yang telah Allah SWT berikan kepadamu ?’. Yahya menjawab, ‘Allah SWT telah mengampuniku, hanya saja Allah SWT mencelaku. Kemudian dikatakannya kepadaku, ‘Wahai Yahya engkau hanyalah temanKu di dunia. Kemudian saya menjelaskan satu hadits yang diriwayatkan oleh Asbu Hurairah RA bahwa RasuluLlah SAW bersabda, ‘Engkau telah berkata bahwa Engkau akan menyiksa orang tua dengan api’.

Setelah itu aku mendapatkan jawaban yakni : Allah SWT telah memaafkanmu, wahai Yahya, dan apa yang disabdakan oleh Nabi SAW adalah benar, hanya saja engkau adalah seorang teman di dunia.




ALASAN PENTINGNYA MEMILIKI RASA RAJA'

Pertama.
Agar bersemangat dalam melakukan ketaatan. Sebab berbuat baik itu berat, dan setan senantiasa mencegahnya, hawa nafsu tak henti-hentinya mengajak paa selain yang baik. Seperti keadaan kebanyakan orang yang lalai, mereka mempunyai watak menuruti hawa nafsu secara terang-terangan. Sedang pahala yang dicari dengan ketaatan itu tidak kelihatan mata dan bersifat gaib. Sementara jalan memperoleh pahala itu begitu jauh.
Apabila demikian keadaannya, tentu nafsu tidak bersemangat dalam mengerjakan kebaikan, tidak menyukai dan tidak pula mau bergerak guna melakukan kebaikan. Dalam menghadapi hal ini, harus dihadapi dengan raja' yang kuat, mengharap rahmat Allah dan kebaikan pahala-Nya.

Guru Imam Ghozali berkata: "Kesedihan itu dapat mencegah manusia dari makan. Khauf dapat mencegah orang berbuat dosa. Sedang raja' bisa menguatkan keinginan untuk melakukan ketaatan. Ingat mati dapat menjadikan orang bersikap zuhud dan tidak menganbil kelebihan harta duniawi yang tidak perlu.

Kedua.
Agar merasa ringan menanggung berbagai kesulitan dan kesusahan.
Barang siapa telah mengetahui kebaikan akan sesuatu yang menjadi tujuan, tentu menjadi ringan untuk mengeluarkan apa yang perlu diberikan. Ketika orang benar-benar menyukai sesuatu, tetnu ia sanggup memikul beban beratnya dan tidak akan peduli apa yang akan ia hadapi dan berapapun ongkosnya. Jika seorang telah benar-benar mencintai orang lain, tentu ia dengan senang hati ikut menanggung cobaan orang yang ia cintai itu. Bahkan merasa senang dengan cobaan itu.
Coba lihat orang yang mengambil madu di sarang lebah, ia tidak mempedulikan sengatan lebah itu. karena ingat akan manisnya madu. Begitu pula orang-orang yang tekun beribadah, mereka bersungguh-sungguh apabila ia teringat surga yang indah dengan berbagai kenikmatannya, kecantikan bidadari-bidadarinya, kemegahan istananya, kelezatan makanan dan minumannya, keindahan pakaian dan keelokan perhiasannya dan semua apa yang disediakan Allah di dalam surga. Mereka merasa ringan menanggung beban kepayahan dalam beribadah, walaupun tidak sempat merasakan kenikmatan dan kelezatan di dunia.

Diceritakan, bahwa murid-murid Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadanya, mengenai ketakwaan dan kesunguhan ibadahnya serta kesahajaan keadaannya yang selama ini mereka lihat. Mereka berkata: "Wahai Ustadz, seandainya Anda mau mengurangi kepayahan yang demikian itu, tentu Anda tetap dapat mencapai maksud Anda, insya Allah,"
Sufyan menjawab, "Bagaimana aku tidak bersungguh-sungguh, sebab aku pernah mendengar bahwa ahli surga itu berada pada tempat mereka, lalu datanglah nur yang menerangi delapan surga. Mereka menyangka bahwa nur itu datang dari sisi Allah, maka mereka pun menyungkurkan wajahnya bersujud. Lalu ada panggilan dari arah Allah: " Wahai penduduk surga! Anggkatlah kepala Anda! Apa yang Anda sangka itu tidak lain hanyalah nur seorang bidadari yang tersenyum didepan suaminya."

Selanjutnya Sufyan mendendangkan bait-bait syairnya:

"Tidak akan memerasakan keberatan menghadapi bahaya
orang yang surga Firdaus sebagai tempatnya.
Kamu dapat melihatnya berjalan dalam keadaan menanggung
sedih dan gelisah khawatir dan takut,
menuju ke masjid-masjid
berjalan dengan pakaian yang sederhana dan lusuh
Hai nafsu!
Kamu pasti tidak akan kuat menahan jilatan nyala api
yang berkobar-kobar
sudah saatnya kau menghadap, setelah lama berpaling."

Jadi pokok urusan ibadah itu berkisar pada dua hal, yaitu melakukan taat kepada Allah dan menghentikan laku maksiat. Keduanya tidak akan berjalan dengan baik dan sempurna, sementara nafsu senantiasa mengajak pada kejahatan.

Nafsu semacam itu harus diatasi dengan membuat senang kepada pahala Allah dan menakut-nakuti dengan siksa-Nya, berharap akan janji Allah, sekali gus menakut-nakuti dengan siksa azab-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Sufi ~ Artikel Ilmu Tasawuf dan Sufisme All Right Reserved
Hosted by Satelit.Net Support Satelit.Net